Regulasi Kredit Rumah Untuk Penghasilan Rendah

Regulasi Kredit Rumah Untuk Penghasilan Rendah dan Alasan Pengajuan Tidak Disetujui – Bisa memiliki sebuah rumah tinggal sendiri adalah impian setiap orang. Karena itulah banyak orang mencari tahu informasi tentang kredit rumah untuk penghasilan rendah ini. Karena ada tantangan tersendiri untuk orang-orang agar bisa lebih bekerja keras dalam membeli sebuah rumah idaman mereka. Terlebih kini sudah ada kebijakan uang muka untuk kredit rumah yang semakin longgar.

Baca juga: Kurangi Angsuran dan Tenor Kredit Rumah Wahana Pondok Ungu

Hal ini makin membuat kebnayakan orang bisa bernafas lebih lega lagi. Hal tersebut telah diatur dari 18 Juni 2015 dimana untuk pemeblian rumah itu kini bisa dibayar dengan uang muka sebesar 20% dari harga rumah saja.  Hal ini berlaku untuk pembelian rumah pertama, rumah kedua, rumah ketiga, dan juga seterusnya. Hanya saja, jumlah nominalnya tidak sama.

Regulasi Kredit Rumah Untuk Penghasilan Rendah

Regulasi Kredit Rumah untuk Penghasilan Rendah

Tiap bank tidak akan mau bila NPL nya menjadi tinggi. Itu karena menunjukkan bahwa besaran kredit macet juga tinggi. Namun kini, BI sudah memberi toleransi senilai lebih dari 5%, sementara bank ingin nilai KPR nya menjadi kurang dari 5%. Yaitu dengan cara memilih nasabah yang bekerja dari kalangan formal.

Supaya NPL bisa terjaga dengan baik, kini bank memberi kpr dengan seleksi yang lebih ketat. Di samping uang mukanya sudah disepakati, bank juga turut memastikan bahwa nasabah harus mempunyai uang agar bisa membayar angsurannya di setiap bulan. Tentu saja hal tersebut perhitungannya telah dipotong berdasarkan pengeluaran di setiap bulan.

Tujuan dari seleksi ketat yang dilakukan oleh bank adalah supaya calon nasabahnya tersebut tidak akan gali lubang tutup lubang saat membayar angsuran kredit rumah untuk penghasilan rendah tersebut. maka dari itulah, ketika proses wawancara berlangsung, setiap calon nasabah akan ditanyai tentang pengajuan kpr tersebut. sehingga, hal ini bisa diketahui seperti apakah sifat dari nasabahnya tersebut. karena ketatnya inilah, membuat para calon nasabah harus lebih berusaha supaya bisa memenuhi persyaratan dan ketentuannya tersebut.

Bahkan, ada banyak nasabah yang rela membayar angsuran kredit rumah untuk penghasilan rendah ini jauh lebih cepat dari kisaran kreditnya yang berkisar antara 10 th sampai dengan 15 th. Di samping itu, nasabah yang sudah mengambil kpr harus isap juga mengalami semua peristiwa ekonomi yang marak terjadi, yaitu sepertu fluktuasi terhadap suku bunga yang ada. Karena inilah, NPL KPR bisa menjadi 3,3%. Nilai tersebut cukup aman dan aman dari ketetapan Bank Indonesia yang senilai 5%.

Hal tersebut cukup membuktikan bahwa bank itu sangat selektif dalam menyalurkan kpr untuk orang-orang yang punya keuangan yang baik. Bisa dibilang bahwa, salah satu alasan ketatnya kpr ini adalah karena dengan melihat perspektif dari nasabahnya, maka ini bsia menjaga adanya kredit macet. Hal tersebut cukup baik dan bisa saling menguntungkan untuk kedua belah pihak.

Berbeda sekali dengan Amerika yang menggunakan system gambling. Dimana mereka memberikan kPR untuk semua pihak, bahkan untuk nasabahnya yang menganggur. Mereka berpikir bahwa kredit macet dapat ditutupi oleh bunga nasabah yang lainnya. Karena mereka hanya mencari suku bunga yang tinggi. Bank pun merasa aman karena telah membawa agunan, yaitu sertifikat rumah yang sedang didanai. Bila ternyata terjadi kredit macet, maka bank tinggal menyita saja propertynya dan kemudian dilelang, semua masalah terselesaikan.

Akan tetapi, ternyata hal ini justru membawa bencana. Sehingga, hal ini membuat mereka kesulitan untuk menjual property yang diagunkan karena banyak orang bermasalah dengan system keuangannya. Maka dari itulah, kini Indonesia belajar dari hal tersebut, dan tidak mencontoh Amerika.