Joseph S. Djafar Keyboardis Terkenal Asal Indonesia

Joseph S. Djafar

Joseph S. Djafar – Dalam usianya yang baru 24 tahun tahun ini Joseph S. Djafar telah merilis 30 album rohani dengan aransemen musik yang segar dan kreatif.

Beberapa diantaranya : Giving My Best 1-3, JAM, True Worshipper 2, Mewarnai Dunia, Nyanyian Hati – Farah P., Pelita Hati – Jefrey S. Tjandra, Accoustic Worship Unplugged Vol.1 (terbaru), dan lain sebagainya.

Selain seorang pemain piano, keyboard dengan prestasi segudang, belakangan cowok berbakat kelahiran Semarang, 26 Agustus 1976 ini dikenal sebagai pencipta lagu rohani.

Beberapa karyanya : Aku Berterima Kasih, Sobat yang Kuperlu, You are My Keeper, Karya Yang Mulia, Someone Cares, Allah yang Setia, dan lain sebagainya.

Bakatnya sudah terlihat sejak awal.  Di usia yang baru 11 tahun, Joseph sudah menyelesaikan sekolah musik di Royal School.

Pernah juara piano Tingkat Nasional Lintas Artha selama 6 kali, merebut Most Outstanding Perfomance untuk kompetisi nasional tahun 1986.

Mendapat penghargaan dari Kedutaan Belanda untuk musik etnis Indonesia-Belanda, terima penghargaan JOC Concert tahun 1988 di Jepang, dan seabrek prestasi lainnya.

Sekalipun dilatarbelakangi keluarga yang semuanya pianis tulen, jangan dikira anak bungsu dari 6 bersaudara ini berhasil tanpa kerja keras.

Punya orang tua yang disiplin, sejak umur 5 tahun Joseph sudah terbiasa dengan jadwal musik yang padat.

Jarak usia delapan tahun dengan kakak nomor lima, membuat anak cowok satu-satunya ini suka menyendiri dan kuper (kurang pergaulan).

Belum lagi  kakak-kakaknya harus pindah ke Jakarta, sedangkan Joseph yang baru kelas 6 SD tinggal dengan orang tua yang sudah berusia 50 tahun ke atas, maka musiklah yang menjadi teman Joseph saat kesepian.

Rasa murung karena dimasa itu tubuhnya gemuk, hinaan teman mengenai dirinya yang tidak bergaul, tidak keren dibandingkan semua kakaknya, telah memacu Joseph belajar piano dengan keras.

Umur 8 tahun Joseph sudah punya jam latihan 4-5 kali per hari, tidak jarang jatuh sakit gara-gara kecapekan.

Sebab hanya dengan main piano, Joseph merasa dirinya eksis di mata orang.

Kelas satu SMP Joseph pindah ke Jakarta. Karena tidak cocok dengan pergaulan di Jakarta, sifat Joseph makin tertutup dan menenggelamkan diri dalam musik.

Kemudian keluarganya mengalami goncangan ekonomi.  Joseph bahkan terancam berhenti les musik yang memang tidak murah biayanya.

Tapi karena bakat musiknya yang tergolong cerdas, banyak yang  mensponsori biayanya sampai tamat.

Bahkan tawaran beasiswa dari sekolah musik di Australia dan Toronto-Canada datang, tapi tidak diambilnya karena takut tidak mampu membiayai hidup di sana.

Hal ini cukup membuat Joseph kecewa dan merasa down. Namun rupanya Tuhan punya rencana lain.

Di gereja tempatnya melayani sebagai keyboardist, Joseph dipercayakan untuk melatih para musisi.  Tak lama kemudian ditarik Symphony Music menjadi salah satu keyboardist. Sempat juga jadi guru piano klasik.

Secara perlahan Tuhan memulihkan hidup Joseph.  Kepercayaan dan kesempatan yang diberikan telah membentuk Joseph sehingga berani memimpin, punya wibawa, dan tidak gugupan lagi.

 

Baca Juga >>Cara Menjadi Penata Musik

 

Perjalanan Karier Joseph S. Djafar

Tawaran pertama untuk mengaransemen musik datang dari Willy Soemantri, yaitu album solo piano Joseph berjudul Kemurahan Tuhan, yang sempat meledak.

Berlanjut di album Giving My Best I  tahun 1996, pelan-pelan nama Joseph mulai dipercaya sebagai music arranger.

Tidak hanya dari kalangan rohani, tapi tawaran untuk menangani musik sekuler berdatangan.  Meskipun Joseph memuji ke profesionalan musik dunia yang menurutnya semua teratur dengan rapi dan transparan, baik itu aransemen, rekaman, marketing, dan keuangan, tapi bagi Joseph:

“Komitmen saya adalah terus melayani Tuhan dengan bakat saya. Dengan bakat inilah saya bisa memuji dan memuliakan namanya.

Musik rohani bagaikan cincin mas kawin yang saya berikan kepada Tuhan.  Saya tidak akan beralih ke musik sekuler meski itu menawarkan uang yang lebih banyak.”

Dengan kesibukan yang padat, di waktu luangnya Joseph memilih tinggal di rumah atau ke pantai, yang penting suasananya sepi dan tenang.

Menurut Joseph yang paling tidak suka keramaian dan ribut-ribut, suasana yang sepi bisa menentramkan hati dan pikiran.

Kini, hasil dari sekian proyek yang digarap, Joseph berhasil membangun studio rekaman miliknya sendiri yang berlokasi di rumah sendiri.

Selain itu, bersama dua rekannya Joseph juga membuat studio di daerah Pancoran.

Tujuannya untuk disewakan dalam arti untuk menambah pendapatan,  sekaligus melahirkan dan melipat gandakan bibit-bibit baru dibidang musik.

 

Itulah ulasan artikel tentang keyboardis terkenal asal Nusantara Joseph S. Djafar. semoga bisa jadi manfaat bagi anda. Terimakasih.

(Credit By : Yaumal Akbar)